Pendidikan
“Kalau Ibu pindah, kami harus mencari kemana jika kangen atau butuh pencerahan dari Ibu?’
Sebuah sms masuk sebulan setelah SK mutasi
saya terima.
Dari seorang anak yang belum pernah bertemu
dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena dia anak IPS dan saya spesialis mengajar
kimia kelas XII.
Kedekatan siswa (anak) dan guru, hampir semua
sudah mengalaminya. Dengan berbagai versi cerita dan keunikan masing-masing. Membangun kedekatan dengan siswa merupakan salah satu
keahlian yang harus dimiliki oleh guru. Seorang guru harus mampu, memahami dan melaksanakan
hal-hal yang bersifat teknis pada saat proses pembelajaran berlangsung dan saat
berinteraksi dengan siswa pada jam-jam di mana siswa berada dalam lingkungan sekolah.
Kegagalan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas pada umumnya, dan pembentukan
karakter siswa dalam kegiatan pembiasaan dikarenakan faktor komunikasi yang lemah.
Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan dalam
membangun komunikasi dan menjalin
kedekatan dengan siswa di sekolah,
1. Tebarkan
Senyum Ramah.
Kadang-kadang
seorang guru memiliki banyak masalah. Masalah administrasi guru yang tidak
kelar-kelar, tuntutan harus menyelesaikan laporan kegiatan, masalah keuangan
keluarga, masalah di lingkungan rukun warga, atau masalah nilai anak yang tidak
memenuhi KKM. Dan itu seringkali membuat guru menjadi susah menarik garis
bibirnya menjadikannya sebagai senyum. Hal ini bisa jadi menakutkan buat siswa.
Padahal seulas senyuman adalah ibadah. Berdasarkan survei kecil-kecilan pada
siswa, ternyata guru yang murah senyum lebih disukai daripada guru yang tidak
pernah senyum. Apakah kita tidak boleh marah ? Ya boleh saja, hanya mungkin
melihat situasi dan kondisi. Jangan marah terus, karena marah tidak baik untuk
kesehatan.
2. Suka Menyapa.
Menyapa siswa di pagi hari ketika
mereka berebutan masuk ruang kelas, saat
bergerombol di jam-jam istirahat, atau setelah pembelajaran usai ternyata
efektif untuk mengenal mereka lebih dekat. Apalagi hafal nama mereka, minimal
nama panggilan kesayangan. Siswa akan bangga dikenal gurunya. Entah ada di mana
posisi “kemampuan”nya dalam pembelajaran kita. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
guru biasanya hanya mengenal 3 siswa : pembelajar cepat, pembelajar lambat dan
siswa yang sering membuat masalah. Dapatkah kita mengenal siswa lebih dari 3
kriteria itu ?
Menjaga wibawa sangat perlu,
tetapi menjaga kewibawaan dalam keramahan jauh lebih perlu. Ada yang masih suka
pasang wajah angker pada siswa ? Ubahlah supaya tidak cepat tua.
3. Dengarkan
Bila Dia Bicara.
Biarkan mereka tahu bahwa kita
tertarik untuk mengetahui tentang mereka. Kadang guru perlu bertanya pada siswa
“apa yang terjadi” saat menjumpai mereka menunjukkan sikap gelisah, riang,
senyum-senyum sendiri, melamun pas jam pelajaran, menyendiri dan sebagainya. Kadang
kita harus begitu, karena seringkali mereka memerlukan perhatian kita. Jika
mereka mau cerita tentang yang dialami, maka tugas kita menjadi pendengar yang
baik
4. Mengikuti
Trend
Saat lagu
Noah yang berjudul Separuh Aku menjadi lagu kebangsaan anak-anak di sekolah,
diam-diam saya ikut menghafalnya. Selain memang liriknya bagus, saya bisa
ngobrol dengan siswa lewat lagu itu. Caranya kadang lewat ajakan menyanyi
sambil duduk-duduk di bawah pohon kelengkeng. Berbaur dengan siswa dalam
suasana santai, kadang membuat mereka
tidak sungkan untuk curhat, tentang apa saja dan bahkan tentang siapa saja.
Gurunya kepo ? tentu saja tidak, kita butuh banyak informasi dari mereka
tentang siapa mereka dan bagaimana kita sebagai guru. Mengikuti trend mereka,
artinya kita tahu apa yang mereka inginkan, kita bisa masuk untuk memberi
pengaruh positif. Guru lebih bijaksana.
5. Menghargai
Anak
Buatlah
mereka merasa aman, pastikan kita bisa menghibur siswa ketika ia mengalami
kegagalan, mengatakan sesuatu dengan cara yang lebih positif, menanggapi
sesuatu dengan sabar adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan mereka, Dan
mereka pun merasa dihargai.
6. Rendah hati .
Kadang kita bisa lupa, saat bertemu dengan anak yang
suka membuat masalah, ketemu anak yang masih tidak mampu mengerjakan soal
meskipun sudah dijelaskan berulang- ulang. Kita marah, kita kecewa, bahkan tak
sadar membanding-bandingkan dengan diri kita sendiri. Atau membandingkan dengan
siswa yang lain. Menunjukkan kesombongan kita sebagai guru. Nah, jika itu terjadi
marilah kita mencoba merendahkan hati. Sikap rendah hati seorang guru mengandung makna bahwa
dia sangat menghargai anak didiknya. Tidak memandang rendah terhadap siswa yang
dianggapnya bodoh
sekalipun. Guru yang rendah hati, siswa pun belajar rendah hati.
Guru komunikatif adalah guru yang berhasil menjalin komunikasi
yang baik dengan siswa. Guru seperti ini kehadirannya akan selalu dirindukan.
Guru yang dirindukan siswa mempunyai tugas khusus untuk menggiring siswa
menjadi jauh lebih baik. Berbeda jenjang
tentu saja berbeda juga cara berkomunikasinya. Dan kita harus banyak belajar
untuk itu. Semoga bermanfaat dan marilah terus belajar.
* Pernah dimuat di Gurusiana dengan link :
http://srirahmiyati.gurusiana.id/article/menjadi-guru-komunikatif-4948020