Halaman

Kamis, 10 Oktober 2019

Mendidik Anak

Mendidik Anak


Menjadi orang tua tentu menjadi sesuatu yang diidam-idamkan dalam sebuah keluarga. Anak tentu menjadi karunia terbesar setelah menikah. Tentunya tidak mudah menjadi seorang tua karena anak adalah amanah Allah yang tentunya harus dijaga sampai mereka dewasa. Sayangnya semakin sekulernya lingkungan membuat tumbuh kembang anak secara moral dan akhlak terganggu. Ini juga yang menyebabkan kenakalan anak terjadi sehingga orang tua menjadi bingung dan repot harus berbuat apa. Islam menjadikan hubungan orang tua dan anak sangat seimbang. Orang tua terbebani pendidikan terhadap anak mereka sedangkan anak terbebani dengan memuliakan orang tua. Akan tetapi kunci utama pendidikan anak pada dasarnya adalah pada orang tua itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, ““Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia, dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya.”
 Berkaitan dengan cara mendidik anak, ada beberapa hal yang menjadi catatan kita, yakni
  1. Menanamkan keimanan dan akidah dalam jiwa anak. Contohnya : Allah Maha Esa, Allah Maha Kuasa
  2. Menjauhkan anak dari akhlak tercela, dengan cara menanamkan agar anak-anak menjauhi sifat-sifat dusta, khianat, iri, dengki dan lain-lain
  3. Serius memberikan pendidikan dengan keteladanan, ingat satu perbuatan lebih bermakna daripada seribu kata-kata
  4. Menghindarkan diri dari sifat kontradiktif yang dapat dilihat dan dicontoh anak
  5. Memperhatikan fase-fase perkembangan usia anak, sehingga orang tua dapat belajar untuk mendampingi anak secara tepat.

 “Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk niscaya ia akan memperoleh hukuman.”
Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

Jumat, 27 September 2019

Menjadi Guru Komunikatif

MENJADI GURU KOMUNIKATIF

 “Kalau Ibu pindah, kami harus mencari kemana jika kangen atau butuh pencerahan dari Ibu?’
Sebuah sms masuk sebulan setelah SK mutasi saya terima.
Dari seorang anak yang belum pernah bertemu dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena dia anak IPS dan saya spesialis mengajar kimia kelas XII.

Kedekatan siswa (anak) dan guru, hampir semua sudah mengalaminya. Dengan berbagai versi cerita dan keunikan masing-masing. Membangun kedekatan dengan siswa merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh guru. Seorang guru harus mampu, memahami dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis pada saat proses pembelajaran berlangsung dan saat berinteraksi dengan siswa pada jam-jam di mana siswa berada dalam lingkungan sekolah. Kegagalan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas pada umumnya, dan pembentukan karakter siswa dalam kegiatan pembiasaan dikarenakan faktor komunikasi yang lemah.
Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan dalam membangun komunikasi  dan menjalin kedekatan dengan siswa di sekolah,
1.     Tebarkan Senyum Ramah.
Kadang-kadang seorang guru memiliki banyak masalah. Masalah administrasi guru yang tidak kelar-kelar, tuntutan harus menyelesaikan laporan kegiatan, masalah keuangan keluarga, masalah di lingkungan rukun warga, atau masalah nilai anak yang tidak memenuhi KKM. Dan itu seringkali membuat guru menjadi susah menarik garis bibirnya menjadikannya sebagai senyum. Hal ini bisa jadi menakutkan buat siswa. Padahal seulas senyuman adalah ibadah. Berdasarkan survei kecil-kecilan pada siswa, ternyata guru yang murah senyum lebih disukai daripada guru yang tidak pernah senyum. Apakah kita tidak boleh marah ? Ya boleh saja, hanya mungkin melihat situasi dan kondisi. Jangan marah terus, karena marah tidak baik untuk kesehatan.
2.     Suka Menyapa.
     Menyapa siswa di pagi  hari ketika mereka berebutan masuk ruang kelas,  saat bergerombol di jam-jam istirahat, atau setelah pembelajaran usai ternyata efektif untuk mengenal mereka lebih dekat. Apalagi hafal nama mereka, minimal nama panggilan kesayangan. Siswa akan bangga dikenal gurunya. Entah ada di mana posisi “kemampuan”nya dalam pembelajaran kita. Sudah menjadi rahasia umum bahwa guru biasanya hanya mengenal 3 siswa : pembelajar cepat, pembelajar lambat dan siswa yang sering membuat masalah. Dapatkah kita mengenal siswa lebih dari 3 kriteria itu ?
     Menjaga wibawa sangat perlu, tetapi menjaga kewibawaan dalam keramahan jauh lebih perlu. Ada yang masih suka pasang wajah angker pada siswa ? Ubahlah supaya tidak cepat tua.
3.  Dengarkan Bila Dia Bicara.
  Biarkan mereka tahu bahwa kita tertarik untuk mengetahui tentang mereka. Kadang guru perlu bertanya pada siswa “apa yang terjadi” saat menjumpai mereka menunjukkan sikap gelisah, riang, senyum-senyum sendiri, melamun pas jam pelajaran, menyendiri dan sebagainya. Kadang kita harus begitu, karena seringkali mereka memerlukan perhatian kita. Jika mereka mau cerita tentang yang dialami, maka tugas kita menjadi pendengar yang baik
4.  Mengikuti Trend
Saat lagu Noah yang berjudul Separuh Aku menjadi lagu kebangsaan anak-anak di sekolah, diam-diam saya ikut menghafalnya. Selain memang liriknya bagus, saya bisa ngobrol dengan siswa lewat lagu itu. Caranya kadang lewat ajakan menyanyi sambil duduk-duduk di bawah pohon kelengkeng. Berbaur dengan siswa dalam suasana santai,  kadang membuat mereka tidak sungkan untuk curhat, tentang apa saja dan bahkan tentang siapa saja. Gurunya kepo ? tentu saja tidak, kita butuh banyak informasi dari mereka tentang siapa mereka dan bagaimana kita sebagai guru. Mengikuti trend mereka, artinya kita tahu apa yang mereka inginkan, kita bisa masuk untuk memberi pengaruh positif. Guru lebih bijaksana.
5.  Menghargai Anak
Buatlah mereka merasa aman, pastikan kita bisa menghibur siswa ketika ia mengalami kegagalan, mengatakan sesuatu dengan cara yang lebih positif, menanggapi sesuatu dengan sabar adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan mereka, Dan mereka pun merasa dihargai.
 6.  Rendah hati .
        Kadang kita bisa lupa, saat bertemu dengan anak yang suka membuat masalah, ketemu      anak yang     masih tidak mampu mengerjakan soal meskipun sudah dijelaskan berulang-ulang. Kita marah, kita          kecewa, bahkan tak sadar membanding-bandingkan dengan diri kita sendiri. Atau membandingkan          dengan siswa yang lain. Menunjukkan kesombongan kita sebagai guru. Nah, jika itu terjadi marilah         kita mencoba merendahkan hati.  Sikap rendah hati seorang guru mengandung makna bahwa dia             sangat menghargai anak didiknya. Tidak memandang rendah terhadap siswa yang dianggapnya              bodoh sekalipun. Guru yang rendah hati, siswa pun belajar rendah hati.

Guru komunikatif adalah guru yang berhasil menjalin komunikasi yang baik dengan siswa. Guru seperti ini kehadirannya akan selalu dirindukan. Guru yang dirindukan siswa mempunyai tugas khusus untuk menggiring siswa menjadi jauh lebih baik. Berbeda jenjang tentu saja berbeda juga cara berkomunikasinya. Dan kita harus banyak belajar untuk itu. Semoga bermanfaat dan marilah terus belajar.








* Pernah dimuat di Gurusiana dengan link :

http://srirahmiyati.gurusiana.id/article/menjadi-guru-komunikatif-4948020

Biarkan Mereka (Belajar) Berpuasa


Biarkan Mereka (Belajar) Berpuasa


Saya masih ingat pada saat berlatih puasa di umur 6 tahun. Bapak dan ibu memotivasi dengan luar biasa. Pelayanan yang diberikan sangat istimewa, di mulai dari sesi makan sahur yang disuapi (padahal saat itu sudah bisa makan sendiri). Kemudian digendong saat bangun tidur dan mau cuci muka ke kamar mandi., disediakan lauk istimewa sesuai kesukaan dan diajak jalan-jalan ke Taman Sari, Stasiun Tugu atau melihat Kraton Jogja sepulang jamaah subuh di masjid. Yang masih terkenang-kenang adalah saat berbuka, kita boleh makan apa saja sesuai keinginan. Tak ayal sejak pagi sudah sibuk mengumpulkan makanan ini itu. Lalu boleh bermain di masjid dan sekitarnya sepanjang hari, karena sekolah libur penuh selama ramadhan. Kenangan belajar puasa yang menyenangkan.

Puasa secara bahasa artinya menahan dari sesuatu. Adapun secara istilah syar’i artinya menahan diri dari makan, minum dan segala pembatal puasa yang disertai dengan niat dari mulai terbitnya fajar shadiq hingga terbenanmnya matahari.
Puasa diwajibkan bagi orang yang beriman, yang berusia baligh laki-laki maupun perempuan. Puasa pada anak-anak belumlah wajib. Namun melatih mereka untuk berpuasa sangat dianjurkan. Sebagai ajang latihan, anak-anak yang berumur 4-8 tahun dapat menjalankan puasa setengah hari (puasa bedhug, di berbuka di tengah hari), atau puasa tiga perempat hari di belakang (puasa ‘ashar, berbuka pada saat adzan ‘ashar).
Membersamai dan mengajarkan berpuasa pada anak-anak adalah kewajiban orang tua, dengan cara memberi motivasi dan pendekatan yang baik. Sehingga anak-anak mau berlatih puasa dengan sukarela. Beberapa manfaat puasa yang dapat kita jelaskan pada anak adalah :
1.  Puasa mendekatkan anak pada agama
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat tersebut jelas, bahwa puasa diwajibkan. Tugas orang tua adalah mengajak anak untuk taat pada perintah Allah. Melatihnya berpuasa, sama artinya dengan melatihnya untuk taat kepada Allah. Taat kepada Allah menjadikan anak akan mengenali agamanya, memahami dan menjalankan sesuai perintah dan larangan.
Beri motivasi dan pujian terus sampai mereka menyelesaikan puasanya. Jelaskan juga bahwa segala sesuatu punya tujuan, maka puasa juga punya tujuan. Membangun rasa cinta Allah dan RasulNya dimulai dari menaati perintahNya.
2.     Puasa mengajarkan anak untuk menjaga keseimbangan hidup
Pada hakikatnya kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk beribadah. Namun karena kesibukan pekerjaan, sekolah, bermain dan lain-lain membuat kita sering melupakan kewajiban kita, Pada bulan puasa ini kita melatih diri untuk kembali mengingat dan melaksanakan seluruh kewajiban tersebut. Menyeimbangkan hidup bersama anak adalah menghidupkan suasana Ramadhan dengan amalan-amalan yang baik, serta mengajarkan bahwa puasa tidak juga menghalangi aktifitas keseharian kita.
3.  Puasa melatih kedisiplinan soal waktu
Untuk menghasilkan puasa yang tetap fit dan kuat di siang hari, maka tubuh memerlukan istirahat yang cukup. Hal ini mendidik tubuh kita untuk tidur lebih teratur. Bangun untuk makan sahur di pagi hari dan berbuka di waktu yang sesuai dengan jadwal di sore hari, ada dua waktu yang dinanti dan ditaati anak.
Point penting dari puasa dalam melatih kedisiplinan adalah: tidur teratur, sahur dan buka tepat waktu, belajar mengatur waktu antara kegiatan ramadhan dan aktifitas harian.
4.  Puasa mengajarkan rasa empati dan silaturahmi
Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, yang tampak jelas di bulan Ramadhan adalah orang-orang memberikan takjil buka puasa di masjid dengan ikhlas, lebih banyak bersedekah, menjalin silaturahmi saat jamaah sholat di masjid.
Selain itu belajar berpuasa, akan memahamkan kepada anak bagaimana rasanya lapar dan haus. Diharapkan tumbuh empati kepada orang yang kurang beruntung secara ekonomi yang ada di lingkungan sekitarnya.
5.  Puasa menyehatkan badan
Puasa membantu anak mengatur pola makan menjadi teratur.
     Puasa juga melatih anak untuk makan makanan yang sehat. Pada saat sahur dan berbuka kita dapat memberikan makanan cukup gizi, menahan anak-anak dari jajan sembarangan. Juga perlu diberi penjelasan bahwa puasa dapat mengistirahatkan pencernaan dan perut dari kelelahan kerja yang terus menerus sepanjang hari sepanjang tahun. Selain itu puasa juga membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi).
6.   Puasa menanamkan kejujuran
    Anak yang berpuasa, melatih mereka untuk jujur. Jujur pada orang tua, orang lain dan diri mereka sendiri. Jujur pada diri sendiri diperoleh dengan mereka menyadari harus menahan rasa haus, rasa lapar dan sikap-sikap buruk. Dan jika mereka tidak kuat, mereka akan jujur mengatakan bahwa memang tidak kuat untuk minta berbuka duluan. Tak apa, namanya juga belajar.
    Puasa juga mengajarkan pada anak untuk menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa.

Model saya dengan model orang tua saya dalam melatih puasa pada anak-anak saat mereka masih kecil, tidak jauh berbeda. Jika ada perbedaan terletak pada bonus di hari raya. Dulu jika puasa saya penuh berarti mendapat baju baru dua potong. Anak-anak saya (kemarin dulu) jika puasa penuh dapat angpao banyak, dari kakek, nenek, paman, bibi dan saudara. Tidak mengajarkan matre, tapi sebagai bentuk penghargaan saja dari orang-orang dewasa. Toh, sekarang mereka tetap puasa wajib dan sunat meski jauh dari orang tua dan tidak pantas lagi mendapat angpao di hari raya.
Lain ladang lain belalang, begitu juga lain keluarga maka beda juga cara melatih anak dalam melaksanakan ibadah puasa ini.

Sebagai tambahan yang mungkin berguna bagi kita, ada tips cantik ala Sara Risman (Parenting With Elly Risman and Family) dalam Tips RamadhanDay #2:
Tips Ramadhan Day #2:
Anak yang masih di bawah usia 7 tahun boleh sahur sebangunnya jika setelah dibangunkan pada waktu sahur belum berhasil bangun juga. 
Mereka puasa sekuatnya sampai waktu yg sama selama 3 hari ke depan. 
Setelah itu tambah minimal 1 jam. Untuk 3 hari ke depan. 
 Jadi misalnya kalau hari ini hanya bisa sampai jam 11, besok dan lusa harus minimal jam 11. 
Hari ke-4 minimal sampai jam 12, untuk 3 hari ke depannya. 
Hari ke-7 sampai jam 1 dan begitu seterusnya. 
Dengan metode ini, seharusnya, targetnya sebelum hari raya, sudah berhasil puasa full
Jika sudah berbuka, tidak boleh lanjut lagi. 
Karena puasa tidak boleh putus sambung sesuka hati. 
Dan mengizinkannya hanya akan mengacaukan konsep puasa. 
Itu metode lama dan salah. Zaman sudah berganti.. Generasi berubah, ilmu semakin nambah jadi cara juga harus berubah. Lebih baik mengasuh langsung dengan benar sekalian, daripada memperbaiki yang sudah terlanjur salah. Ya kalau umur kita cukup panjang untuk membetulkannya.. Kalau tidak?
Puasa adalah proses yg harus dilalui seumur hidup, buat semenyenangkan mungkin😊

Mungkin masih ada dari kita yang eman-eman ketika mau melatih berpuasa pada anak-anak dengan berbagai alasan. Tentunya hak masing-masing dalam mendidik anak, pendapat boleh berbeda. Tugas kita sebagai orang tua adalah melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Mengajarkan dan melatih beribadah yang diperintahkan Allah SWT adalah salah satu usaha kita, dan itu dapat dimulai sejak dini.
Semoga bermanfaat.


*Tulisan ini pernah diposting di Gurusiana tgl 29 Mei 2017
* Link : http://srirahmiyati.gurusiana.id/article/biarkan-mereka-belajar-berpuasa-173276

Senin, 29 Juli 2019

Sastra-Puisi


MALAM

Aku hanya ingin bercerita padamu
tentang kita di masa itu
saat sawah masih menghijau terhampar, dan sungai-sungai bening gemericik
saat kita muda dan selalu menyenandungkan indahnya burung berkicau
perasaan yang sama menyatukan mimpi dalam bahtera indah bertabur bunga-bunga

Andai badai tak menghempas setiaku
kita masih bernyanyi dan melangkah bersama
menyusuri pematang, menyibak semak berduri dan bergandengan di atas jembatan bambu licin terguyur hujan,
menari di bawah rinai, dan mentertawakan pelangi

Namun acapkali rasa syukur kita lupakan
Kau, merenggut apa yang pernah kita punya
meremasnya hingga remuk berkeping
dalam diamnya malam
hingga akhirnya aku tak mengerti mengapa secuil asaku menjadi kenangan

kaki langi di bukit amben

memberiku jawaban, mengapa rinduku tak berjawab


Yogyakarta, 29 Juli 2019

*teruslah menulis, supaya pikiranmu terus bekerja
*tak ingin lelah berbagi

Rabu, 17 Juli 2019

Belajar Sepanjang Hayat

Belajar Sepanjang Hayat

Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.” Dari hadits tersebut jelas terlihat bahwa menuntut ilmu adalah sebuah keharusan tidak terbatas waktu. Menuntut ilmu juga menjadi keharusan bagi siapa saja, laki-laki, perempuan, tua dan muda. Dengan ilmu manusia dapat lebih bijaksana dalam menjalani hidupnya dan dengan ilmu pula manusia ditinggikan derajadnya oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya berikut ini,
            Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu” maka berdirilah niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Mujadallah :11)
 Belajar yuuuuk..........😊😊😊          

VCT atau Virtual Coordinator Training adalah sebuah kegiatan di mana kita belajar tentang bagaimana mengelola training online. Dalam kegiatan ini, peserta akan belajar tentang google form, digital flyer, room webex, kegiatan vicon (video conference), dokumentasi, QR Code dan lebih banyak lagi. Yang tak kalah seru, semangat untuk saling berbagi ilmu, belajar bersama, tidak menggurui, ketrampilan membagi waktu dan gigih, menjadi warna yang indah selama mengikuti kegiatan VCT ini. Persaudaraan terjalin dengan indah. Pengetahuan pun bertambah.
Untuk mendapatkan semua itu, jangan lupa  bergabung ke http://bit.ly/pendaftaran-vct5-Jateng-DIY atau menggunakan barcode yang ada. Guru harus selalu siap berubah menjadi jauh lebih baik dengan belajar dan berbagi.

Wassalamu'alaikum Wr Wb




Jumat, 12 Juli 2019

SALAM



Assalamu'alaikum. Wr. Wr
Ketika saya benar-benar mampu menyelesaikan blog ini, maka yang pertama dan utama saya memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT.
Setelah sekian lama blog pribadi hilang entah kemana, maka mulai saat ini saya ingin memulai untuk menulis tentang pendidikan dan segala yang ada dan saya temui. Dengan blog ini, harapan saya dapat memotivasi para guru untuk lebih memahami dan mencintai profesi guru. Saya juga ingin mengajak para guru untuk terus belajar dan belajar, mengupgrade diri untuk meningkatkan ilmu dan mengasah ketrampilan. Menjadi guru yang memiliki komitmen untuk bisa asah, asih dan asuh.
Wassalamu'alaikum Wr Wb

Pendidikan

Work from Home dan Pelatihan Online - Pergumapi

Postingan Populer